Setiap pagi
dia menyapa para tetangga
riang menebar senyuman
setumpuk surat di boncengan
motornya mengelilingi desa
harap-harap cemas diriku
datangnya sepucuk surat
dari sahabat pena
bawa kabar dari seberang benua
Hmmmm....tapi itu semua
adalah cerita mama
bersahabat dengan kertas dan perangko
yang tak pernah kurasakan
duniaku adalah dunia maya
yang menyapaku nyaris tanpa jeda
Dia yang rambutnya telah memutih
masih setia menyapa
mama, tetangga, aku dan teman-temanku
walaupun jumlah surat di boncengan tak seberapa
riang senyumnya tak pernah sirna
(undil - 2013)
Cerita pendek ringan bernuansa psikologi dan manajemen untuk teman minum teh
Showing posts with label puisi anak. Show all posts
Showing posts with label puisi anak. Show all posts
Puisi Anak: Sepatu Tua
Sebuah sepatu tergolek di selokan,
kotor, suram, bermandi lumpur,
tali-talinya sudah terbelah,
kulitnya compang camping,
solnya mangap, jebat, dan jebol.
Tapi jangan ragukan jasanya,
andai dia punya perasaan,
dia tidak akan sedih, tidak juga menderita,
karena di masa lalunya dia telah berguna,
bersahabat dengan kaki pemiliknya,
bertahun-tahun setia dalam tugasnya,
menemani sang kaki pergi kemana-mana,
Kini tiba masanya
merelakan tugasnya
bagi sepatu yang lebih muda
(undil-2013)
Label:
puisi anak
Puisi Anak: Perang Suci di Gaza
Kala perang suci tak
terelakkan
musuh menyerang
dengan senjata tak terbilang
kalian bertempur
dengan senjata sekedarnya di tangan
Mereka berperang
dengan perut kenyang
Kalian sudah lama sekali
sulit menemukan makanan
Tapi perang kalian beda dengan mereka!
Bila mereka perang
untuk mendapatkan tanah jarahan
kalaupun mati, hanya mati demi materi
(hiks! sungguh kasihan Perang demi Materi)
Kalian bertempur demi kemerdekaan
Kalian berjuang mengakhiri penjajahan
Kalian ditemani ribuan malaikat bertasbih
Kalian dirindukan para penghuni langit
Kemenangan berarti kemerdekaan
Kematian-pun janji kemuliaan di alam keabadian
Mereka betempur penuh ketakutan
hati berkerut-kerut karena takut mati!
Kalian bertempur gagah berani, tidak takut mati!
Mereka sungguh ngeri dengan keberanian kalian
karena jiwa-jiwa mulia sungguh menakutkan
bagi jiwa-jiwa lemah yang berkerudung kegelapan
Bagi mereka kematian adalah jalan kehinaan
Mati demi sejumput tanah rampasan
sungguh kehinaan yang tak terlukiskan
musuh menyerang
dengan senjata tak terbilang
kalian bertempur
dengan senjata sekedarnya di tangan
Mereka berperang
dengan perut kenyang
Kalian sudah lama sekali
sulit menemukan makanan
Tapi perang kalian beda dengan mereka!
Bila mereka perang
untuk mendapatkan tanah jarahan
kalaupun mati, hanya mati demi materi
(hiks! sungguh kasihan Perang demi Materi)
Kalian bertempur demi kemerdekaan
Kalian berjuang mengakhiri penjajahan
Kalian ditemani ribuan malaikat bertasbih
Kalian dirindukan para penghuni langit
Kemenangan berarti kemerdekaan
Kematian-pun janji kemuliaan di alam keabadian
Mereka betempur penuh ketakutan
hati berkerut-kerut karena takut mati!
Kalian bertempur gagah berani, tidak takut mati!
Mereka sungguh ngeri dengan keberanian kalian
karena jiwa-jiwa mulia sungguh menakutkan
bagi jiwa-jiwa lemah yang berkerudung kegelapan
Bagi mereka kematian adalah jalan kehinaan
Mati demi sejumput tanah rampasan
sungguh kehinaan yang tak terlukiskan
Label:
puisi,
puisi anak
Puisi Bike to School: Why I love My Principal
Karena setiap Selasa dia menyediakan sarapan di kantin pada siapa saja yang datang ke sekolah dengan sepeda
Karena setiap Rabu dia bagikan Voucher Sepatu Sport khusus bagi siswa yang baru pertamakali naik sepeda ke sekolah
Karena setiap Jumat dia bagikan novel-novel terbaru bagi siapa saja yang lima hari berturut-turut bersepeda ke sekolah
Karena setiap Sabtu dia sediakan bengkel secara cuma-cuma untuk merawat semua sepeda yang dibawa siswa ke sekolah
Karena dia berhasil membujuk semua toko sepeda lokal untuk memberi discount khusus bagi para siswa sekolah kami
Karena dia menggusur tempat parkir mobil demi membuat tempat parkir sepeda
Karena dia mengajak kami untuk bersepeda bersama keliling kota setiap Sabtu pagi
Karena dia memberi tambahan nilai olahraga satu point bagi siapa saja yang bersepeda ke sekolah dua bulan berturut-turut
Karena dia mengajarkan wujud cinta pada diri sendiri dan pada alam semesta dengan bersepeda
Karena dia mengajari kami arti sebuah dunia yang indah tanpa polusi
Karena dia menarik, ceria dan tingkah lakunya mempesona ^_^
Karena setiap Rabu dia bagikan Voucher Sepatu Sport khusus bagi siswa yang baru pertamakali naik sepeda ke sekolah
Karena setiap Jumat dia bagikan novel-novel terbaru bagi siapa saja yang lima hari berturut-turut bersepeda ke sekolah
Karena setiap Sabtu dia sediakan bengkel secara cuma-cuma untuk merawat semua sepeda yang dibawa siswa ke sekolah
Karena dia berhasil membujuk semua toko sepeda lokal untuk memberi discount khusus bagi para siswa sekolah kami
Karena dia menggusur tempat parkir mobil demi membuat tempat parkir sepeda
Karena dia mengajak kami untuk bersepeda bersama keliling kota setiap Sabtu pagi
Karena dia memberi tambahan nilai olahraga satu point bagi siapa saja yang bersepeda ke sekolah dua bulan berturut-turut
Karena dia mengajarkan wujud cinta pada diri sendiri dan pada alam semesta dengan bersepeda
Karena dia mengajari kami arti sebuah dunia yang indah tanpa polusi
Karena dia menarik, ceria dan tingkah lakunya mempesona ^_^
Label:
bike to school,
puisi,
puisi anak
Puisi Bike to School: Little Myrna
Namaku Myrna
Kata mama umurku tiga tahun satu bulan
Aku punya sepeda, walau rodanya masih empat
Pengennya sepeda roda dua
seperti yang di pake Om-om di Tour de France
tapi untuk sementara tak apalah
aku pake sepeda buat anak kecil itu
(padahal aku udah tiga tahun satu bulan!)
Tiap hari aku sepedaan di halaman rumah
Jangan tertawa!
itu dah lebih bagus dari bulan lalu
Waktu itu aku baru boleh naik sepeda di dalam rumah
Bosen banget deh,
sepedaan di dalam rumah seharian.
Tapi kini aku-pun mulai bosan,
naik sepeda sebatas keliling halaman
Pengennya bisa sepedaan di jalan
Alamak! Aku kan udah tiga tahun satu bulan!
Kata mama umurku tiga tahun satu bulan
Aku punya sepeda, walau rodanya masih empat
Pengennya sepeda roda dua
seperti yang di pake Om-om di Tour de France
tapi untuk sementara tak apalah
aku pake sepeda buat anak kecil itu
(padahal aku udah tiga tahun satu bulan!)
Tiap hari aku sepedaan di halaman rumah
Jangan tertawa!
itu dah lebih bagus dari bulan lalu
Waktu itu aku baru boleh naik sepeda di dalam rumah
Bosen banget deh,
sepedaan di dalam rumah seharian.
Tapi kini aku-pun mulai bosan,
naik sepeda sebatas keliling halaman
Pengennya bisa sepedaan di jalan
Alamak! Aku kan udah tiga tahun satu bulan!
Label:
bike to school,
puisi,
puisi anak
Subscribe to:
Posts (Atom)