Aku terang termasuk orang yang selalu senang mencoba sesuatu yang baru, tanpa banyak terpengaruh oleh selera populer. Ada dua hal yang menarik minatku, yaitu makanan dan festival. Sebutkan saja beberapa festival tahunan yang pernah diadakan di Jakarta; bisa jadi aku pernah menyempatkan diri mendatanginya. Festival makanan tentu saja tidak luput dari perhatianku, berhubung di dalamnya terdapat dua hal yang menarik bagiku tadi. Walaupun demikian, tidak semua festival makanan layak dihadiri, apalagi ditunggu-tunggu kembali setiap tahunnya. Festival Jajanan Bango yang diselenggarakan Unilever Indonesia, merupakan salah satu festival makanan yang bermutu, terbukti selama 5 tahun keberadaannya telah memberi inspirasi bagi masyarakat untuk lebih mencintai kuliner Nusantara, dalam penyajian yang menarik. Selain itu, Komunitas Bango Mania yang saling terhubung lewat mailing list dalam waktu relatif singkat sudah mencapai ribuan jumlahnya.
Sebagai penduduk Jakarta, aku merasa keberadaan kuliner tradisional makin lama makin bersaing oleh banyaknya variasi kuliner internasional yang mewakili citra modern. Meski sebenarnya kegemaran makan tidak ada hubungannya dengan kemajuan cara pandang, namun entah mengapa orang sekarang bisa jadi lebih bangga dan merasa lebih "modern" apabila mencicipi Sour Sally dibanding es rujak sebagai dessert. Efek dominonya, menu "Fish and Chips" pun kemudian menjadi lebih populer dibanding Gurame Goreng (terutama di kalangan muda). Hal ini terutama aku rasakan saat pertama kali pindah ke Jakarta; bagaimana sulitnya mencari makanan khas daerah. Lucunya, melalui komunitas milis, aku pun jadi tahu bahwa sebenarnya ada banyak orang yang menyukai kuliner nusantara (bahkan rela menjelajahi gang-gang kecil di Jakarta pada malam hari, hanya untuk menikmati masakan tertentu). Banyak pula orang yang baru menyadari kerinduan akan masakan Indonesia setelah mereka tinggal di luar negeri, jauh dari sambal terasi dan lalapan. Kekayaan kuliner memang selayaknya dijaga sebagai bagian identitas sebuah bangsa. Nah, dengan adanya Festival Jajanan Bango (FJB) yang menyajikan lebih dari 50 pilihan kuliner khas dari seluruh Nusantara ini, orang semakin dimudahkan untuk melepaskan kerinduan tersebut. Tujuan dari kegiatan yang tahun ini bertema "Festival Kelezatan Sepenuh Hati" tersebut memang untuk melestarikan warisan kuliner nusantara. Ada empat kesamaan kriteria yang dimiliki tiap partisipan FJB, yaitu memiliki resep warisan leluhur, bahan baku yang spesial, cara memasak istimewa, dan penyajian yang menggugah selera. Berhubung tahun lalu sempat melewatkan Festival ini, maka bulan Mei kemarin aku membuat janji bareng teman-teman untuk datang pada hari pertama (Sabtu, 23 Mei). Berhubung sudah lama juga nggak ketemu beberapa teman itu, bisa dibilang FJB sekaligus jadi ajang reuni kecil-kecilan... hehehe...
Ada tiga prinsip yang aku pegang setiap kali datang ke FJB: datang dengan perut kosong, hindari waktu makan malam (saat lokasi biasanya paling ramai), dan bawa uang tunai lebih dari biasanya. Jadilah kami meluncur dari rumah masing-masing dan bertemu di Plaza Selatan Gelora Bung Karno sekitar jam pukul 17.00. Cuaca hari itu cukup bersahabat, dan sangat mendukung acara pengisian perut kami. Kupilih tenda Komunitas Bango Mania sebagai pos strategis untuk bertemu, meskipun akhirnya kami tidak lama di sana karena langsung tergoda untuk mengitari keseluruhan lokasi dan menuruti ke mana arah wangi masakan membawa. Begitu melewati stan es krim Ragusa, aku pun langsung tergoda melihat begitu banyak orang yang berebutan membeli es krim legendaris seharga sepuluh ribu rupiah tersebut. Ckckck, dalam hitungan menit dagangan itu habis tak bersisa (untunglah aku masih sempat mencicipi rasa choco chip vanila!). Setelah menemukan kursi untuk duduk, aku langsung mengarahkan target ke stan Bebek Goreng Yogi. Terus terang, itu merupakan kali pertama aku mencicipinya, setelah beberapa kali membaca "iming-iming"-nya melalui milis. Salah seorang temanku membeli Nasi Uduk & Ayam Goreng H. Babe Saman, sementara yang lain berpencar untuk mencari Tahu Petis dan Kerak Telor. Ketika bebek gorengku sudah habis tak bersisa, temanku belum balik juga. Maka, aku pun lanjut mengincar Gado-gado Bon Bin yang pernah diliput di "Bango Cita Rasa Nusantara". Rasanya? Hohoho, saus kacangnya begitu halus dan sayur-sayurnya juga terasa fresh di lidah... Singkat kata, aku yang sudah setengah kenyang, masih bisa menghabiskan seporsi gado-gado tersebut tanpa mengeluh. Aku pasti akan kembali mencari Gado-Gado Bon Bin (yang berlokasi di dekat hotel Formula 1 Cikini) itu, karena menurutku kualitasnya lebih terjamin dibandingkan gado-gado merk lain yang franchise-nya terkenal, dan harganya cukup terjangkau. Kulihat temanku yang tadi begitu bersemangat kembali dengan tampang lesu. Ternyata Tahu Petis Yudistira yang diidam-idamkannya habis di tengah-tengah antrian yang panjang. Kebayang nggak sih, untuk memperoleh seporsi tahu dan petis para pengunjung rela mengantri lama? Seperti itulah gambaran kerinduan masyarakat Jakarta akan sajian khas tradisional... (bersambung ke sini)