Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts
Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts

Wednesday, January 27, 2010

Yogyakarta on the road

Kali ini Dolphinrider melaporkan dari Jogja. (Sebenarnya sudah ... WOW baru sadar belum di post sejak 23 September 2009)

Sudah lama diriku tidak jadi sopir trayek luar provinsi. Kali ini berdua dengan Lik kami menyusuri jalanan Surabaya - Jogja dengan si mungil Karimun. Kami memilih tanggal ini karena kami berharap mereka yang mengambil libur lebaran sedang memasuki arus balik. Dan benar saja, kemacetan di arah sebaliknya kami lihat panjang sekali.

Kami berangkat malam hari sekitar pukul 20.00 WIB dan memutuskan untuk menuju Borobudur langsung sebagai tempat tujuan pertama kami. Tiba sekitar pukul 03.00 di Jogja dengan Lik sbg driver, baru lah diriku yang menggantikan ketika kami menuju Borobudur melalui ringroad (sekitar 45 menit) Karena terlalu pagi, kami harus beristirahat di mobil menunggu gerbang di buka pukul 06.00 WIB.

Untuk memasuki lahan parkir Candi simbol kebangkitan ini, kita di kenakan tarip Rp 5.000,- /mobil. Dan kemudian juga harus antri di loket wisatawan Nusantara serta membayar tiket masuk Rp 9.000,- / orang dan Rp 1.000,- / kamera.

Di dalam taman wisata ini pengunjung tidak di perbolehkan untuk membawa makanan di karenakan alasan kebersihan. Jadi jangan tersinggung karena sebelum masuk kita harus membuka tas kita untuk di periksa satu persatu.

Untuk menikmati dan membaca cerita relief Borobudur, kita bisa masuk melalui pintu timur dan bergerak searah jarum jam dan menempatkan candi di sisi kanan kita dari tingkat bawah sampai tingkat tertinggi. Konon sebagai penghormatan kita bisa memutari setiap tingkatan sebanyak 3 kali.Ketika keluar menuju tempat parkir kita akan di lewatkan di pasar souvenir yang menjual berbagai pernak pernik sebagai barang oleh2. Jika ingin membeli sesuatu yang khas dari kota ini pahatan batu berbentuk borobudur bisa di jadikan pilihan karena Magelang terkenal sebagai kota pemahat.

Belum tidur semalam dan perut yang berteriak minta makan bukan lah perpaduan yang menarik. Jadi kami mencoba mencari solusi keduanya sekaligus di Bladok Losmen & Restaurant. Jalan Sosrowijan 76. (0274) 560452. Kenapa Bladok? Karena makanan western food disini emang mantap punya. Dia membuat rotinya sendiri. Nih biar tambah ngiler ...
American Breakfast

Makanannya Popeye :p

Soal harga yah..relatif ya.Nih bocorannya.. ;) Ice tea Rp 5.000,-, American breakfast Rp 21.000,-
(Liputan soal Losmen Bladok monggo click disini)

Sayangnya, karena masih musim liburan kami tidak mendapat tempat di sekitaran Malioboro. Jadi kami berputar sedikit lebih jauh dan akhirnya menemukan hotel Sala,dan karena kebetulan ini cabang ke 3 dari 5 cabangnya maka di namakan hotel Sala Tiga. Jalan Dagen 48 (0274) 580600. Hotel ini cukup bersih, dengan kamar mandi dalam dan teras sendiri. Karena sudah cukup lelah dan tidak ingin mengadu peruntungan lagi di masa liburan ini. Maka kami ambil 1 kamar ber AC tapi tanpa air panas. (Maaf entah kenapa sepertinya bonnya terselip entah dimana, jadi tidak bisa memberikan kisaran harganya)
Setelah tidur pagi :p kami memilih Museum Ullen Sentalu (click saja) di kawasan Kaliurang sebagai next stop.
Ketika memasuki kawasan Kaliurang akan di kenakan Rp 2.000,- untuk masing2 mobil dan orang.Museum sejarah Jawa dan batik ini buka pada pukul 09.00 - 15.30 WIB. Dan tiket nya seharga Rp 25.000,- untuk wisatawan lokal. Rp 50.000,- for foreigner. Kita akan memasuki museum bersama2 dibatasi sekitar 10 orang /rombongan dan di pandu oleh guide yang akan menceritakan sejarah dari awal kita masuk. Museum ini tutup pada hari Senin. Sebelum memasuki "gua pohon" ini, kita di peringatkan bahwa tidak boleh mengambil foto didalam. Dan jika ada yang mau di titipkan, bisa menggunakan loker yang di sediakan free.
Ullen Sentalu merupakan singkatan dari “ULating blENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya adalah “Nyala Lampu Blencong sebagai Petunjuk Manusia dalam Melangkah Meniti Kehidupan”.

Museum ini bangunannya tidak tampak dari luar, malah terlihat seperti hutan dan seperti kita akan memasuki pohon beringin tua. Dingin, sejuk menambah suasana oldies dan mistisnya. Setelah masuk, kita akan memasuki ruang bawah tanah yang ternyata di dekorasi dengan wah..dan keren. Pokoknya keren n eksotis deh, dingin dan tidak bau.

Oleh sang guide kita akan di ajak melihat alat2 musik tradisional Jawa di ruang pertama. Dia bercerita dengan luwes dan cepat lalu membawa kami ke ruang berikut melalui lorong2 yang penuh berisi lukisan yang menceritakan sejarah kerajaan Jogja dan Solo serta keturunan Sultan. Tentang putri2 kerajaan yang ternyata tidak lah kuno. Mereka bahkan sudah bersekolah di luar negeri di jaman dahulu itu. Ada lukisan yang juga di buat 3 dimensi seorang putri yang fashionable, ada lukisan Pangeran Charles n Lady Di beserta Sultan. Ada lukisan yang di buat sedemikian rupa sehingga mata mereka yang ada di lukisan itu mengikuti arah gerak kita. (keren..). Lukisan2 ini di lukis oleh pelukis khusus kerajaan yang tidak di publish namanya.

Tiba kami diruang lain, yang berisikan kumpulan puisi dari seorang putri yang dijodohkan dengan pria yang tidak dicintainya. Puisi2 itu di pajang dalam kotak2 kaca dan bahasanya begitu indah2. Sang putri bertukar surat dengan bibi dan sepupu2nya yang juga membalas dengan puisi balasan.

Di ruang lain adalah koleksi motif batik yang menjadi sejarah kerajaan Solo dan Jogja. Ada yang hanya di pakai untuk acara2 kebesaran dan lain sebagainya.
Berikutnya kami di ajak mengenal seorang putri yang sangat modern pemikirannya. Pandai berkuda, menguasai 4 bahasa dan menentang monogami dalam kerajaan. Beliau pernah menolak lamaran Pak Karno karena sudah ada istri2 sebelumnya. Di kisahkan dia baru menikah pada usia 30 tahun pada masa seorang gadis biasanya di nikahkan umur 10 tahun.

Melewati rimbunnya pohon2 kami sampai di ruangan lain yang tidak kalah dingin dr ruangan sebelum2nya. Lebih berasa dingin lagi ketika nama Nyi Roro Kidul di sebut. Dalam ruangan itu ada lukisan besar tentang tarian yang hanya boleh di tarikan pada saat raja naik tahta. Tarian ini ditarikan oleh 9 penari perawan dan harus dalam keadaan tidak haid serta berpuasa sebelum melakukannya. Bagi orang Jawa 10 adalah angka yg sempurna, sebenarnya ada 1 penari lagi yang diyakini ikut menarikannya yaitu Nyi Roro Kidul yang dalam lukisannya di buat sedikit transparan.

Terakhir kita di suguhi teh ramuan seorang putri keraton secara gratis sembari bisa melihat2 souvenir di toko yang berisi batik2 dengan banyak model. Teh ini konon bisa membuat panjang umur, terbuat dari campuran cengkeh, jahe, daun pandan dan ramuan rahasia dari sang putri.
Dengan pengetahuan baru kami pulang kembali ke Jogja. Kami menyempatkan diri berhenti di Gudeg Mbarek Bu Hj Ahmad yang berada di Kaliurang Km 10. Kami ingin menyantap hidangan khas Jogja tersebut. Enak nih apalagi perut belum terisi lagi. Rumah makan yg luas ini tampak kosong tapi kami jg harus menunggu karena ternyata banyak pesanan mrk terima.

Sejarah sudah, makanan khas sudah, kami kembali ke kawasan Malioboro tepatnya persis di sebelah stasiun kereta api. Kami sedang mencari sebuah minuman yang terdengar aneh bagi kami dan hampir2 susah membayangkan bagaimana meminumnya. Namanya Kopi Joss. Ternyata ini adalah minuman kopi (bisa juga teh) yang di cemplungin arang membara sehingga bunyinya josss.....dan itulah yang kita minum. Tidak higienis memang mengingat arang itu di ambil dari pembakaran air yang di gunakan untuk membuat kopi tersebut tapi cukup unik nan kreatif. Lek Wi sang pemilik angkringan mengatakan khasiatnya bisa buat badan hangat dan tidak gampang masuk angin. Di jalan ini ada beberapa angkringan(warung dan lesehan mgkn ya kalau di sini) dan penuh dengan remaja2 yg jg menikmati nasi bungkus murah dan gorengan. Angkringan2 ini buka sejak pukul 13.00 sampai pukul 04.00 pagi.

Ketika kami melihat jalanan Malioboro yang penuh sesak walau sudah mulai meringkas barang2 mereka, kami memutuskan untuk mencuci mata sejenak di kawasan belanja yang paling ramai di Jogja ini. Tapi kami hanya sekedar lewat karena kami baru akan menelusuri Malioboro dan Pasar Beringhardjo keesokan harinya.

Sehabis sarapan yang di sediakan dari hotel kami tetap beristirahat mengingat akan melakukan perjalanan panjang untuk pulang ke Surabaya lagi. Jadi kami mengumpulkan tenaga sampai waktu check out hotel kemudian menuju ke daerah Malioboro. Kami memilih parkir di sebelah Bank Indonesia karena kami ingin mencoba sebuah resto yg di rekomendasikan oleh seorang pengunjung angkringan di malam sebelumnya. Tidak mau membuang waktu dan tenaga, kami bertanya kepada pak polisi yang kemudian membantu kami memanggil becak dan menjelaskan pada pak becak ttg tujuan kami sekaligus menawarkan harga (baek banget deee pak pol nyaa...)

Kurang lebih 10 menit kami sampai di Bale Raos yang ternyata berada di dalam kawasan Keraton. Harganya termasuk tinggi tapi disini kita bisa menikmati hidangan yang di sajikan untuk Sultan dan tamu2 keraton. Pada menunya kita bisa melihat makanan mana yang di sukai oleh Sultan ke brapa. Misalnya Bestik Djawa atau Es Secang yang merupakan welcome drink untuk tamu2 kerajaan. Tidak terlalu memuaskan perut, tapi lidah cukup puas (alias....kurang banyak makannya hahahaha) Tak apalah, sekali lagi.. tempat yang unik dan tidak akan ditemui di tempat lain.
Es Secang (Minuman tamu kerajaan)
dan Beer Djawa (non-alkohol, minuman favorit Sultan HB VIII)

Bestik Djawa (untuk Sultan HB IX)

Bebek Suwar Suwir (Sajian khas Sultan HB IX)

Sehabis deg2an di jalan gara2 kita salah cegat bapak becak yang uda tua gitu(sampe nga tega deh duduknya) pake nabrak becak lain pula si bapak :( akirnya sampe deh kembali di kawasan Malioboro. Untuk menjawab si perut maka berhentilah kami di depan Pasar Beringhardjo untuk makan fastfood khas Jogja yaitu Pecel Pincuk. Wah makan pecel, tahu dan tempe bacem di sertai lombok sesuka hati. Puas dah....Mengingat saran tips dari teman2 lain, maka proses tawar menawar pun terjadi lah ketika kami memasuki pasar berisikan baju2 batik itu. Baju bayi, ibu hamil, baju tidur, hem kerja, semua ada dari batik. Kelihatannya selain karena musim libur, pasar ini jadi begitu penuh karena batik baru saja di canangkan sebagai warisan asli Indonesia.

Belanja di pasar ini lebih bisa di tawar daripada di luarannya alias jalan Malioboro. Kebanyakan barang di Malioboro hampir seragam harganya dari penjual satu ke lainnya. Jika ingin membeli oleh2 bisa juga membeli bakpia pathuk konon yang terkenal enak nomor 25 dan 75. Tapi ada pula toko di tengah2 malioboro itu yang menyajikan bakpia fresh from the oven (bak breadtalk gitu tmptnya). Bisa di cicip dulu sebelum membeli.

Kami menyusuri Malioboro sampai kaki berasa mau patah dan sepertinya mobil kami menjadi yang terakhir meninggalkan tmpt parkir. Segera kami menuju ke arah jalanan pulang Surabaya dan mampir di Mc D sebagai santapan akhir kami di Jogja dan untuk berganti baju dan menyegarkan diri menempuh malam, kali ini diriku sebagai driver sampai di Surabaya. (masuk rumah terus keluar lagi menuju Batu...hancur dah... tapi bahagia akhirnya sempat berlibur) :p

Sekian laporan dari Jogjakarta, doakan semoga punya waktu lagi dan jumpa di tempat yang lain ya.

Wednesday, August 12, 2009

Karimunjawa

"mau kemana nih, Bali??"
'kalau Karimunjawa piye? kamu kan pengen kesana'
"hahh.. backpackeran??"
'iya...'
"bukannya mustinya kita santai2 pas hanimun?"
'kan bisa santai juga nanti disana...'

Akhirnya saya dan istri yang baru berumur seminggu memutuskan untuk ke Karimunjawa, sebuah kepulauan yang sejak tiga tahun lalu pengen aku kunjungi tapi selalu gagal. Saya tertarik banget sama wisma apugnya Pak Joko yang terkenal ituh, tapi semenjak meninggalnya Pak Joko websitenya jadi engga terupdate. Sempat saya hubungi via email juga tidak ada balasan sampai akhinya saya menemukan Pak Ipong, salah satu penduduk Karimun yang kebetulan mempunyai hotel sekaligus birowisata disana dan mau membantu kami untuk pengurusannya.

Setelah email-emailan panjang lebar akhirnya kami mempunyai kesepakatan memakai jasa Pak Ipong untuk pengurusan tiket dan tetek bengeknya. Rencana awal mau di Wisma Apung dua malem tapi engga enak.. masa udah bantuin engga nginep di hotelnya hihi.. jadi akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di Wisma Apung semalem dan di hotel Duta Karimun semalem.

8 agustus...
Kami berangkat dari Surabaya tgl 7 Agustus, mampir ke rumah sodara dulu dan bermalem disana. Kemudian keesokan harinya sesuai jadwal kami menuju ke Pelabuhan Tanjung Mas jam delapan pagi. Disana ternyata ada Pak Ipongnya sendiri, deg-degan juga karena tiketnya sempet ilang.. ehh.. tau2nya keselip.. duh Pak, kalo ga jadi brangkat piye nih?? :p.
Pukul 9 wib tepat kapal Kartini berangkat. Kami dapet tiket bisnis, ruangannya nyaman, ber-AC. Waktu diatas kapal kami sempet ditukerin ama dua orang anak tiket kelas eksekutif, wah mayan nih dapet rejeki!!. Tapi setelah dicoba ternyata kelas eksekutif ada di lantai dua, kalo kapal gerak makin terasa goyangannya. Alamakkk.. kok gini??? akhirnya minta tukeran lagi dah, untuk si mbak engga sewot :p.


(kiri) kapal kartini, (kanan) ruang bisnis

Pukul 13.00 kapal bersandar di pelabuhan Karimun, kami sudah dijemput sama Pak Srianto, driver sekaligus tour guidenya.


(kiri) gate selamat datang (kanan) peta tempat wisata di karimun

Kami singgah sebentar di Dewa Daru Resort untuk lunch dengan menu sayur bening, kurupuk teri, ikan goreng, buah pisang dan es kelapamuda. Makanannya sederhana tapi rasanya yummy :). Setelah makan kami di datangin ama Pak Ipong...


salah satu tempat penginapan di dewadaru resort

"Mas, ada rombongan yang engga mau dipisah nih, mas dipindah aja ya?, mau di Dewadaru sini atau Karimun Inn?"
'aduhh.. saya buta nih soal Karimun, saya ngikut deh apa yg baik'
"okeh, di Karimun Inn aja ya?"

Setelah lunch, Pak Sri mengantarkan kami ke Karimun Inn untuk beristirahat sebentar plus mandi-mandi. "Nanti jam tiga siang tak jemput loh ya, siap-siap" pesan Pak Sri yang wajahnya selalu sumringah :p.


(kiri) kamar di karimun inn, (kanan) resto di karimun inn

"Wah, ternyata engga dipinggir pantai ya?" huks.. tau gitu di Dewadaru, sempet nyesel juga awalnya milih di tempat ini.
Di tempat ini Pak Ipong nyewain family room, satu rumah gitu dengan dua kamar plus satu ruang tamu buat nonton TV. Weewww.. ternyata tetangga kita satu rumah menyenangkan banget, dapet kenalan baru yang ramah & baik. Wah, ga jadi kecewa deh udah dipilihin di tempat ini, jadinya liburan double date hahaha...

Tepat pukul tiga sore Pak Sri jemput, kita berempat berlayar gabung dengan rombongan yang ternyata kakak kelas saya pas kuliah tujuh tahun lalu, halah mbulet wae ternyata dunia ini :p. Dasar apes, schedulenya engga saya print dan masih ngendon di email, padahal waktu itu acara snorklingan, uhuks.. ga bawa celana renang. Jadinya saya dan istri cuma bengong2 aja liat orang2 pada jebar jebur.

Setelah acara Snorkling di Pulau Cemara Besar kami lanjut berlayar ke Tanjung Gelam untuk melihat sunset. Sepertinya tempat ini masih termasuk Pulau Karimunjawan, tapi sisi yang lain. Sore ini langit kurang bagus, sunset terbentuk engga sempurna, wah.. apes lagi nih... tapi kami sempet bikin foto narsis buat pembaca petawisata, foto yang judulnya salam cinta dari karimunjawa... :p

salam cinta dari sunset di karimunjawa

Dari Tanjung Gelam kami pulang ke motel untuk mandi, kemudian dilanjutkan makan malam di Dewadaru Resort. Menu kali ini ikan goreng, ikan asep, oseng-oseng kerang, sayur asem (kalo gak salah :p), krupuk, semangka, pisang, teh anget.. nyamm... enak, saya suka oseng kerangnya.

9 agustus...

Pagi-pagi kami udah dijemput sama Pak Sri untuk berlayar ke Pulau Menjangan Kecil dan Menjangan Besar untuk melihat taman laut. Hari ini juga kami berencana pindah penginapan ke Wisma Apung Pak Joko.
Kami memakai boat milik perhubungan yang di dalemnya ada kaca yang menghadap ke bawah, jadi dari atas kapal bisa melihat terumbu, ikan dll, bagus euy.


(kiri) pemandangan bawah laut dari atas kapal, (kanan) snorkling bareng ikan2

"Pak, mau pipis dimana nih?" celetuk salah satu rombongan ke pengemudi...
"waduh, ya nyebur aja ke laut buk sekalian snorkling" sahut Bapak pengemudi

Hiyaaahhh, akhirnya semua pada rame2 nyebur deh sekalian snorklingan huahua... semua pada cengar-cengir tuh waktu nyebur, saya tentu saja ikutan nyumbang pipis di laut :p. Kali ini persiapan sudah ok, jadi bisa snorklingan berdua, asiikkk. Makasih banget Pak Srianto buat panduan ke taman lautnya, tepatnya narik kami berdua :p... gpp ya Pak, kan bapak yang pake sepatu katak haha. Pak Sri ini ternyata anggota scuba diver, pantes di laut enak banget keluar masuk air, tau2 nyelem... eh muncul lagi... nyelem lagi.. sempet diambilin kerang warna pingky dari dasar laut buat kenang2an, tapi kok ya malah ketinggalan di perahu :(( huaakk..

Setelah di Pulau Menjangan kita melanjutkan perjalanan ke Kura-Kura Resort, sebuah pulau yang konon dibeli dan dikelola oleh orang asing. Namun sayang, saat itu rombongan engga boleh bersandar disana, mungkin takut privasi tamu2nya terganggu. Yah, kita maklum sih...

Acara terakhir kita ke Wisma Apung sekalian pindah rumah. Wisma Apung ternyata ada banyak disini bukan Pak Joko doang (baru tahu nih). Saat itu kami di Wisma Apung lain karena kabarnya di Pak Joko Sudah full booked :(. Wisma Apung yang ini kondisi kamar mandinya mengenaskan, engga ada air.. mampus dah.

wisma apung

"Gimana? mau pindah ato balik ke karimun inn?" tanyaku ke istri yg tampangnya udah keliatan ngeri begitu liat kamar mandinya :p
"tetep di karimun inn aja ya?"

Demi kelancaran buang air besar dan kecil akhirnya kami membatalkan untuk pindah ke Wisma Apung dan balik kandang. Wisma Apung ini sekaligus tempat untuk penangkaran Hiu dan Penyu entah dengan tujuan pelestarian atau sengaja sebagai obyek wisata kami kurang tahu.

(kiri) kolam hiu, (kanan) penangkaran penyu

Kalau mau berenang dengan Hiu diperbolehkan loh, kabarnya sih Hiu ini udah jinak. Tapi yang namanya Hiu ya tetep aja Hiu, jadi lebih amannya kami memilih untuk mengamati dari atas saja :p.

Setelah dari penangkaran Hiu kami pulang untuk mandi2 kemudian dijemput lagi untuk makan Malam di The Nirvana Lodge. Wuaahh tempat ini keren banget, semua bangunan dari kayu. dam ruangan2nya tertata apik. Arsitekturnya bagus, kami ber empat makan malam dilantai dua dengan pemandangan depan menghadap laut dan atas bintang2, romantiss :D. Menu malem terakhir ini rada dimanjakan, kami dapet sate ayam, cumi tepung, ikan bakar, sayur model cap cay gitu dan semangka, semua dalam porsi raksasa. Kami berempat sampe kewalahan, yg habis cuma ikan bakarnya, yg lain nyerah...

salah satu sisi nirvana lodge

Setelah makan malam kami mampir di toko souvenir, yang dijual kebanyakan khas daerah situ seperti perhiasan dari kerang berupa gelang, kalung dll. Kalau makanan yang dijual rumput laut, teri, krupuk. Saya pribadi tertarik dengan tongkat yg diukir bentuk naga terbuat dari kayu dewadaru (kayu khas karimun), sayang duit di dompet dah tipis huhuhu...

10 agusus...

Hari ini rencana pulang... jadwal kapal cepat Kartini engga ada pada hari ini, jadi kami pulang dengan Kapal Muria, lebih gedhe emang tapi ternyata engga menjamin lebih tenang. Atau memang bulan2 Juli-Agustus ini ombak lagi gedhe-gedhenya ya? Goncangannya terasa banget.. buset dah..

(kiri) kapal Muria, (kanan) ruang bisnis

Perjalanan dengan kapal Muria ini lebih lama, waktu itu kami menempuh 7 jam perjalanan laut. Kami menempati kelas Bisnis, bangkunya mayan lebar dan empuk, ber-AC juga.

pemandangan dari atas dek Kapal Muria

Sekian share cerita dari karimunjawa... salam hangat petawisata...

tips :
- makin atas kapal, goyangan makin krasa, jadi pilih kelas bisnis aja yang berada di dek bawah. antimo wajib dibawa.. abis nelen langsung bobo ato paling ga pura2 merem :p
- di karimun terkenal dengan kayu yang namanya dewadaru, banyak kerajinan dijual dalam bentuk tongkat dll di toko suvenir, wajib tuh buat kenangan tapi mahal... siap2 aja 300rb.
- karena ini kepulauan jadi kalo buta medan disarankan pake jasa guide aja kecuali bawa duit banyak buat sewa boat pribadi :D
- kalau mau acara padet benernya 2 hari semalem semua kepulauan udah bisa diputerin
- di pintu masuk pelabuhan ada peta lokasi wisata, baca baik2 kalau mau tau tujuan yg dipengen
- kapal Muria kamar kelasi bisa disewa buat yg suka mabok bisa tidur disana. 1 kamar isi 4 tempat tidur.

note :
- Makasih banyak buat Biro Wisata Pak Ipong, pelayanan yang membuat kami selalu kenyang dan hari-hari yang penuh dengan jalan-jalan. Birowista ini bisa diakses disini dan disini. Moga sukses ya Pak..
- Thanks buat tetangga kamar sebelah Adi dan Rizki, nice to meet you all...

Monday, July 14, 2008

Yogyakarta (2)

Petawisata kembali mengunjungi kota pelajar, pada tanggal 11-13 Juli 2008. Perjalanan kali ini Petawisata mencoba menginap di kawasan para backpackers bule-bule, di "international villages" dengan liputan Malioboro, Benteng Vredeburg, Pusat jajanan Mataram, pasar Beringharjo.

11 Juli 2008

Dari Surabaya, perjalanan ke Jogja dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih tujuh jam. Bus Patas Eka sudah menanti saat kami masuk ke peron terminal Bungurasih jam tujuh pagi. Kebetulan sekali, Bus langsung tancap gas begitu kami naik, jadi engga perlu nunggu lama-lama sampai penumpangnya penuh.

Harga tiket yang harus dibayar enampuluh enam ribu rupiah per orang sudah termasuk lunch di Resto Duta daerah sekitar Ngawi (kalo ga salah). Bus cukup bersih, AC juga berfungsi dengan baik bahkan cenderung over dingin :D. Di bagian depan sebelah kiri ada alat untuk memcahkan kaca jika keadaan darurat, dan di belakang sebelah kanan ada emergency door. Tampaknya kendaraan umum sekarang sudah lumayan memperhatikan keselamatan penumpang juga, bagus dah. Kernet bus juga baik, membantu mengangkat tas penumpang, selalu tersenyum ramah dan memberi informasi2 lengkap yang dibutuhkan.

Pukul 14.30, kami tiba di Jogja, kemudian sewa taxi milik terminal dengan ongkos 40 ribu untuk perjalanan kemanapun dalam lingkup batasan dalam kota, harga ini keknya terlalu mahal mengingat jogja adalah kota yang engga sebrapa luas.
Delta Homestay daerah jalan Prawirotaman adalah tujuan kami untuk bermalam. Beruntung sekali, kami sempat memesan kamar melalui fasilitas online di yogyes.com sebelumnya, karena tempat ini sering fully booked, terutama untuk high season seperti sekarang.

Ternyata benar juga, Prawirotaman memang layak disebut international villages, banyak sekali bule-bule bertebaran di daerah ini, bahkan di penginapanpun kami adalah satu-satunya tamu domestik berambut hitam, yang lain pada blonde semua.

Setelah sampai hotel kami beristirahat sejenak, kemudian sore hari keluar untuk cari makan. Kami keluar motel berjalan kaki menyusuri remang jalan Parangtritis sambil berburu tempat makan yg enak, engga sedikit juga tukang becak menyambut kami menawarkan harga perjalanan murah meriah. lima ribu mas, muter2 jogja, cari dagadu, bakpia, batik”… bah, lima ribu muter jogja?? Gak mungkin ah, kami engga mengiyakan langsung tawaran itu, mengingat tips yang pernah kami dengar adalah bahwa tukang becak di Jogja sengaja "menjebak" dengan membawa ke tempat batik, bakpia, dll agar dia dapet tips dari tokonya kalau penumpangnya beli, kalaupun kita engga beli maka dia akan minta uang tambahan dengan alasa sudah muter2 gak jelas. ‘mboten pak, mlampah mawon’… itu jawaban singkat dari kami untuk menolaknya. Namun sepertinya tukang becak itu gigih juga, udah hampir 15 menit kami berjalan dia ngikutin terus dari belakang sambil mulut komat-kamit ala marketing… “malioboro mas? Badhe teng pundit toh? Adoh loh… bla…bla…”. Lama-lama kesel juga diikutin, akhirnya kami menyeberang jalan dengan tujuan si tukang becak engga bisa ngikutin lantaran jalan berlawanan arus. Tapi ya tetep aja ternyata, sementara kami jalan dia ngikutin dari seberang… ya amplop, ngeyel amat sih, mau ngajak kuat-kuatan Pak?? Tungguin aja sampe mampus, kami mo maem gudeg dulu hehe…

Pulang dari maem kami berniat ke persewaan motor untuk mempermudah mobilitas ke esokan harinya. Sayang, semua motor sudah dipesan, jadi kami engga kebagian satu pun, namun pemilik persewaan menyarankan untuk ke jalan di gang sebelah yang (katanya) bertebaran persewaan motor disana.

12 Juli 2008

Setelah mumuk dengan nyenyak, keesokan hari kami melanjutkan perjalanan untuk mencari persewaan motor. Ada banyak sekali persewaan, kira2 lima tempat sudah ditanya namun jawaban yang kami dapat selalu sama “motor kosong mas, habis dipesan”. ‘motor engga disewakan sama turis domestic mas, banyak kejadian di embat motornya hilang mereka kapok!!’ celetuk tukang becak. Ah.. ini mah akal-akalan si tukang becak aja biar kita naik becaknya dia. Kami pun cuek dan tetep cari… namun bener juga, tiap tempat yang ditanya selalu kosong. Kemudian flashback, kami mencoba mengingat kejadian kemaren, di depan hotel ada persewaan motor dan katanya semua motor udah di pesan, namun tadi pagi motor2 itu tampak masih tetap ada. Wah, jangan2 si Pak Becak bener inih? Siyal dah… ya udah, naik becak aja yuk ke Malioboro…

Rute dari Prawirotaman ke Malioboro ternyata tidak terlalu jauh, kalau ditempuh jalan kaki kira-kira cuma memerlukan waktu satu jam saja. Ada baiknya kalau jalannya melalui rute Kraton (dari Parangtritis belok kiri ke Mayjen Sutoyo), jadi banyak pemandangan yang dilihat biar gak jenuh, ada alun-alun, Taman Sari dan Kraton itu sendiri.

gbr : pasar beringharjo, malioboro, tempat oleh2 di mataram

Di Malioboro kami mengunjungi Pasar Beringhardjo, pasar ini tempat orang kulakan daster, baby doll, celana yang hampir semuanya bermotif batik. Pasar ternyata rameeee banget, kami Cuma masuk sebentar kemudian keluar, engga tahan dengan hiruk pikuknya. Setelah itu kami menyusuri malioboro dan berbelanja batik, belanja di Malioboro perlu ekstra hati-hati, barang yang ditawarkan biasanya berharga tiga atau empat kalio lebih mahal, jadi jangan sungkan-sungkan untuk menawar. Kami saat itu tertarik dengan mainan yang terbuat dari kayu....

“Mbak beli brapa itu?”,

‘sepuluh ribu mas, kalo yang diatas itu tiga belas ribu, bapaknya minta lima belas awalnya’ jawab seorang pembeli…

Beberapa saa kemudian kami kembali ke tempat itu lagi dan berniat ingin membeli…

“niki pinten pak?” ‘selangkung’.. (dua puluh lima ribu)

Nah loh… belom ada satu jam udah naik hampir tiga kali lipat. Dari Malioboro, kami blusukan ke dalam gang di sebelah hotel Mutiara, gang tersebut tembus ke jalan Mataram, tempat orang jualan makanan kecil khas jogja. Ada geplak, bakpia, jenang, wajik, intip dan lain-lain... wah, beli.. beli.. buat oleh-oleh..

Selain menyusuri Malioboro kami mampir ke benteng Vredeburg, benteng ini benteng peninggalan jaman Belanda, letaknya di ujung jalan Malioboro.

gbr : pintu masuk benteng, halaman depan, ruang diorama

Tiket masuk engga mahal, cukup 750 rupiah per orang, murah kan? :). Di dalam ada Diorama, Museum sejarah benteng didirikan dan beberapa ruangan lain yang saat kami kunjungi saat itu masih tutup (ato memang ga pernah dibuka? :p). Ruang diorama menurut kami keren sekali, banyak peristiwa jaman dahulu yang digambarkan dalam bentuk lukisan tiga dimensi dengan perspektif yang indah pula.

13 Juli 2008

Hari terakhir, duh.. sedih rasanya harus meninggalkan Jogja, masih banyak tempat yang ingin kami kunjungi, namun kami harus kembali lagi ke peradaban. Hari ini kami engga kemana-mana, cuma cari sarapan, beberes dan ngobrol2 menghabiskan waktu sambil nunggu jam untuk check out. Engga lupa juga foto2 mengabadikan motel yang murah meriah bernuansa alami ini :)

gbr : teras depan kamar, pintu masuk ke area penginapan, kolam renang

Penginapan di motel ini cukup menarik, dengan 130rb sudah dapet kamar yang bersih full AC dan kamar mandi dalem. Kalau mau yg lebih murah lagi ada yang dibawah seratus ribu, engga pakai AC dan joint bathroom, tapi jangan kuatir, kamar mandinya dijamin bersih kinclong.

gbr : petawisata contributors

Tips :
  • hati-hati dengan penawaran becak/ojek murah dengan iming-iming lima ribu muter2 Jogja
  • di Jogja sekarang ada fasilitas bus Trans Jogja yg bersih, manfaatkan semaksimal mungkin
  • tawar barang di Malioboro paling engga 1/3 dari harga yg diberikan
  • di Mirota batik (di Malioboro) tersedia peta jogja gratis buat panduan jalan-jalan
  • selalu tanya harga makanan jika masuk area lesehan, kebanyakan menu tanpa harga dan menjebak
Sampai jumpa Jogja, kami akan kembali lagi dalam liputan yang lebih lengkap dan menarik ;)...

* Salut buat bus Eka semoga tetep dipertahankan pelayanannya…
* terimakasih untuk Pak Dedy yg bantu untuk booking di Delta

* Terimakasih untuk hadiahnya yang terlalu awal :p, partner traveling yang paling berkesan… lain kali kita lanjutkan lagi berburu tengleng di kota Jogja... masih penasaran 'rek... :
)

Monday, April 02, 2007

Yogyakarta

Akhir Maret kebetulan ada tanggal merah, Hari Sabtu pengennya ke Jogja dalam rangka liat acara Sekatenan di Keraton Jogja pas Mauludan. Pengen berangkat dari Surabaya naik Bus Patas, tapi mempertimbangkan cuaca yang engga menentu & terminal yang jauhnya amit-amit akhirnya perjalanan dengan Kereta Api adalah keputusan yang cukup baik, tapi dasar sial ternyata jadwal kereta api jam 3 sore, sedangkan kantor tutup jam 4 :(. terpaksa deh kami (Boambang dan aku) numpang kereta jurusan bandung yang berangkat pk. 06.00 sore, tentunya dengan tarif 2 kali lipat karena semua gerbong engga ada bisnisnya alias eksekutif semua.. huks... Ehh... di dalem gerbong ternyata ada kejadian konyol juga, ada tv nyala acara lagu-lagu video klip tapi suaranya ga muncul, dan lagi AC di gerbong kami mati, huaahhh semua pada banyak yang protes tapi ya maklum, apa yang bisa diperbuiat ? terpaksa deh dengan berkeringat dan berpanas ria duduk manis di dalam, piye toh fasilitas pemerintah ini kok ya ga pernah ada yg beres 100%... heran..., di kereta dapat makan malam ternyata, nasi goreng sosis, telur ceplok dan krupuk yg agak mlempem (lagi-lagi protes) hehehe.

Hari pertama engga kemana-mana karena kita tiba di Jogja sudah pk 23.30, jalan kira-kira satu kilometer dari Stasiun Tugu Jogja sambil nggembol tas ransel besar di punggung ala bekpeker menuju ke jalan Sosrowijayan, kami menginap di motel Bladok sesuai dengan saran si Carla via sms malam itu. Tarif semalam yang paling murah Rp. 80.000,- double bed, kamar mandi dalem dan kipas angin (tanpa tv). Motel ini ok banget, meski kamarnya kecil (sekitar 3x3m) tapi bersih, kamar mandinya juga bersih. Yang paling menarik adalah, ternyata di bagian belakang ada kolam renangnya huehuehue.. siapa nyana harga sekian dapet kolam renang.

Hari Kedua, sehabis makan gudeg pincuk di sisi jalan sosrowijayan yang berisi nasi, krecek, telur dan gudeg seharga Rp. 5000,- kami berjalan ke rumah sodara (dapet pinjaman motor gratis). Abis ngobrol2 sama Tante tentang musibah gempa dan angin puting beliung yang ternyata mengerikan banget :(.

Perjalanan pertama ke Candi Borobudur dengan guide Yeriko (adek sepupu). Dari kota Jogja, motor dipacu ke arah Magelang, kira-kira satu jam (rata-rata kecepatan 60-80 km/jam) dah nyampe di area Candi yang super panas, tapi jangan kuatir, di area sana persewaan payung. Tiket masuk dapat dibeli dengan harga Rp. 9000,- plus kamera Rp. 1000,-, total 10.000,- per orang.

gambar : tugu selamat datang (kiri) dan Candi Borobudur dari bawah (kanan)

Candi Borobudur mempunyai sejarah yang unik, tiap tingkat dari tingkat paling bawah sampai ke tingkat paling atas menceritakan perjalanan kehidupan manusia menuju ke kehidupan kekal (muksa).

gambar : patung Budha di foto dari belakang (kiri) dan salah satu penggalan cerita dari dinding Candi (kanan)

Dari Borobudur, perjalanan dilanjutkan makan siang di depan SMU Van Lith (konon terbagus se DIY), makan kupat tahu.. nyam..nyamm.. kemudian ke Keteb Merapi dengan jalannya yang menanjak dan berliku, yakni daerah pemantauan aktivitas Gunung Merapi, tapi sayang karena siang itu mendung banget jadi gunung ketutupan ama kabut tebal alias gunungnya engga keliatan sama sekali, gagal deh melihat lahar yang mustinya keliatan dari pos ini. Nasib sial pula, pas pulang ternyata tutup karburator motor sepupu lepas terpaksa deh itu Honda Ulung di modifikasi ala Macgyver, beli aqua gelas trus dibuat tutupnya biar karburator engga kemasukan air ujan.

gambar : aku dan Bo di candi (kiri) dan Riko lagi berpose ala Macgyver (kanan)

Abis dari Keteb Merapi yang gagal, perjalanan dilanjutkan menuju Taman Sari, di seputar kraton Jogja. Taman Sari adalah tempat peristirahatan Raja dan selir-selirnya yang berjumlah puluhan, bagus banget, cuma sayang sekarang area sekitar sudah dibangun rumah-rumah abdi dalem kraton (rumah ini dulu adalah bekas kolam raksasa yang dibuat sedemikian rupa seperti laut).

gambar : pintu masuk dari depan dan Taman Sari difoto dari atas

Sayang saat kami masuk area sudah tutup, terpaksa nyewa Guide untuk memandu kami muter-muter lewat jalan tikus, beruntung ternyata ada beberapa tempat yang masih buka, antara lain Masjid bawah tanah, terowongan dan puncak menara.

gambar : lorong dan tangga (di seputar Masjid) dan foto Sunset dilihat dari Menara.

Taman Sari ini cukup indah, dan biasa dipakai untuk Foto Model para Fotografer karena tempatnya artistik. Orang jaman dahulu sangat pintar dan semua bangunan ternyata menyimpan sebuah cerita unik tersendiri, sebagai contohnya tangga (foto ditengah) yang bercabang 4 ternyata mempunyai arti sebagai penunjuk arah mata angin. Cerita lain yang unik yang dituturkan Guide adalah, tempat bercinta Raja, yang di dalam kamarnya cuma ada dipan dari semen dan dibawahnya dibuat rongga untuk menyalakan kayu bakar. nah loh.. gak kepanasan ?? "engga" jawab si Guide karena kalau kayubakar dinyalakan otomatis suhu ruang panas dan terjadi perbedaan tekanan udara dalam ruangan dan luar ruangan yang menyebabkan udara akan masuk melalui lubang2 jendela kamar... akibatnya.. kipas angin alami menghembus sepoi-sepoi... wahh kerenn....
Tiket masuk Taman Sari perorang Rp. 7000,- dan Guide ongkosnya sukarela... tapi karena kami kemaren masuk nylonong tanpa tiket (udah tutup) jadi ngasih duit ekstra buat Guidenya plus temennya yang masih ada di dalem lorong yg mau nungguin kita jeprat-jepret.

Abis dari Taman Sari, balik motel, mandi-mandi bentar trus keluar lagi buat mamam Nasi Jaran di deket rumah Oom. Nyam.. enak.... abis itu minum di kedai kopi Lik Man, pesen kopi joss (kopi yang dicemplungin arang yang membara (joss berasal dari suara saat arang dimasukkan ke gelas... jozzzzzz) kemudian muter-muter jalan bentar sambil lihat Motor Harley berlalu lalang, rupanya hari ini ada perkumpulan arley se Indo, ada acara apa gitu di daerah parang tritis... wah keren bok.

Hari ini ga berhasil lihat sekatenan di kraton gara-gara infonya dateng telat :(

Hari Ketiga, bangun pagi mau sarapan di UGM sambil liat orang joging gagal, karena acara misa di Gereja waktunya mepet banget, duh pilih mana ya.. ke UGM atau ke Gereja... ? berhubung orang baik-baik keputusan dipilih ke Gereja hauhauhua.... Minggu Palem soalnya menyambut Paskah, jadi ini momen khusus engga boleh ketinggalan. Ngikutin prosesi selama kurang lebih dua jam sambil mengucap syukur bisa menikmati ini semua.

Pulang Gereja perjalanan menuju Museum Affandi yang terletak di Jl. Laksda Adisucipto 167, arsitektur museum ini menarik, dibangun di tepi tebing dengan model bangunan rumah panggung. Di Area terdapat 3 Galeri yakni Galeri lukisan Affandi yang bernilai 1 - 4 Milyar perbiji, galeri keluarga affandi (lukisan istrinya) dll, dan galeri lukisan affandi yang dijual, ada menara untuk panjat-panjat, mushola kecil, tempat tinggal Affandi dan makamnya Affandi dan istrinya yang terletak di depan rumah.

gambar : Rumah Affandi dari seberang jalan (kiri) dan makam Affandi (kanan)

waktu kami berkunjung ada rombongan anak SMP yang juka ikut datang, yah.. maklum, anak yang masih penasaran dan jahil itu tangannya gatel aja pengen megang itu lukisan dan nyowel-nyowel cat minyaknya yang menyembul.. hiyaahhh deeekkk itu satu lukisan bisa buat biayai kamu sampe lulus sarjana !!!!

gamabr : lukisan potret diri Affandi, tidak dijual (kiri) dan lukisan taman, dijual (kanan)

Dari Galeri Affandi, perjalanan di lanjutkan ke art gallery Sapto Hudoyo yang tempatnya cuma 5 menit dari Affandi. Namun sayang di area ini tidak boleh foto-foto sehingga tidak ada yang bisa ditampilkan disini. Sapto hudoyo adalah art galeri yang terbaik dari segi arsitektur dan penataannya. Banyak barang-barang seni dipajang disini, sebagian untuk koleksi, sebagian lagi untuk di perjual belikan, model bangunannya jawa banget dengan pilar-pilar kayu berplitur dan berukir dan kolam ikan yang besar plus pernik-pernik keris, topeng dll yang di pajang di tembok2. Masuk di art gallery tidak dipungut biaya alias gratis. setelah melihat-lihat kami makan Soto Balung.. duduk di kursi tua berukir ditemani suasana yang tradisional dan artistik.. romantis bok.. sayang pasanganku kok ya lanang.. huks..

Perjalanan terakhir sebelum pulang kami memacu kendaraan ke Candi Prambanan, lama perjalanan 30 Menit dari Sapto Hudoyo (+/- 80-100 km/jam). Sesampai di Candi Prambanan terasa sepi, engga seramai Borobudur, ternyata area masih ditutup karena candi masih dalam perbaikan karena gempa, banyak relief2 yang miring-miring dan rawan jatuh, ya.. demi keselamatan pengunjung memang sebaiknya ditutup. Kami hanya bisa menikmati dari luar saja. Tiket Masuk Rp. 8000,- per orang, Kamera Rp. 1000,- tapi kami lolos dari pemeriksaan kamera hehehe....

gambar : Candi Prambanan yang sudah selesai diperbaiki (kiri) dan candi prambanan yang masih dalam taraf perbaikan (kanan)

note : di area Candi dijual pernik-pernik replika candi, buku sejarah candi, baju, gelang dll (pasar tradisional) dengan harga yang lumayan miring, sepertinya kalau belanja di area ini jauh lebih murah daripada di Malioboro (maklum.. pengunjung lebih fokus ke Candi dari pada blanja)

Reporter Valens, Boambang dan Riko melaporkan dari Kota Jogja... salam petawisata... :)

Saturday, May 14, 2005

Telaga Sarangan

Telaga sarangan, terletak di Jawa Timur, hampir berdekatan dengan perbatasan Jawa tengah. Dari Kota Surabaya dapat ditempuh melalui rute-rute berikut, Surabaya-Mojokerto-Jombang-Kertosono-Nganjuk-Madiun/Ngawi-Magetan-Sarangan.
Sarangan adalah kota kecil dengan ketinggian lebih dari 1000m diatas permukaan laut, tentunya dapat dibayangkan bagaimana kondisi cuaca di kota ini. Pagi hari sekitar pukul 04.30 orang-orang sudah mulai beraktivitas, suasana pasar sudah hidup, pedagang sate kelinci pun berkeliaran di depan motel-motel yang bertarif sekitar Rp. 125.000,- per kamar (ini sudah merupakan tarip untuk motel yg lumayan bagus). Pagi yang sangat dingin tentunya, apalagi bagi orang Surabaya asli yang tiap harinya berteman dengan panas terik dan gerah. Yah, meskipun menggigil aku coba keluar dari penginapan keliling2 di Telaga Sarangan, telaga yang khas di kota itu, hiburan bermacam-macam di sekeliling Telaga, mulai Berkuda, Naik Kapal Boat dan keliling2 danau ataupun memancing.

keliling danau dengan boat


mancing di telaga sarangan

Pada malam hari kami mencoba memasuki daerah seberang danau, berjalan menyisir pelan-pelan berbekal Senter sebagai penerangan, karena memang jalan terasa sangat gelap gulita, sesekali terdengar derap langkah monyet2 kecil yang mengikuti dari belakang… mencari makan atau apalah, sebagai saran jangan bawa barang2 yang berwarna mencolok atau makanan2 kecil… karena monyet usil itu pasti langsung menjambret dan membawa hasil jambretannya keatas pohon. Dari seberang danau pemandangan terasa indah, kota sarangan terlihat gemerlap dengan lampu-lampu yang berwarna-warni.

sarangan dari seberang telaga di malam hari

Dari sarangan sebetulnya bisa lanjut keatas, Cemorosewu dan Tawangmangu, sayang saat itu kendaraan tidak memungkinkan kondisinya untuk menempuh jalan yang bermedan berat dengan kemiringan 35 derajat :((. Yah terpaksa kembali lagi ke Surabaya tercinta.

Posting by Valens