suatu saat, langit tak berpihak padaku. gelap, sunyi, dan awan hitam serta hujan pun datang menghampiriku. ketukan pintu mulai terdengar. aku menghiraukannya. suara hatiku berkata "aku butuh seseorang yang menemaniku saat ini". setiap manusia pasti sering berkata dengan awalan coba saja kalau... dan ya itu yang terjadi padaku. coba saja kalau ada seseorang yang baik datang dan menemaniku saat ini.
ketukan pintu itu semakin terdengar keras. aku bangun dan bergegas bangkit dari rajang empuk dengan balutan sprei yang berwarna putih bersih. langkah ku galau dan terus bertanya-tanya, "siapakah seseorang dibalik pintu kayu ini?". memutar ke kanan kunci yang melekat pada gangang pintuku dan kubuka kan perlahan-lahan. ternyata seseorang yang memakai sweeter biru dan celana jeans abu-abu nan elok yang sedang kedinginan dan basah kuyup karena hujan lebat diluar sana. langsung ku lontarkan pertanyaan, "adakah yang bisa kubantu?" lalu dengan bibir yang gemetar dia berkata, "mungkin aku membutuhkan secangkir teh hangat dan pelukan manis yang dapat mencairkan kebekuanku saat ini." aku berpikir seakan aku jatuh cinta pada seseorang nan elok di hadapanku ini. nyaman dan lega karena harapanku terpenuhi. "ayo masuk, silahkan duduk dan akan kubuatkan teh yang hangat untukmu", ia pun tersenyum manis padaku. ku ambil sebuah cangkir dari lemari kayuku. dengan tersenyum kubuatkan teh hangat untuknya. setelah siap, ku berikan kepadanya. ia pun meminumnya dengan perlahan-lahan.
berbincang-bincang asik dengannya membuatku seakan melayang dan terbang di atas langit biru, dengan begitu banyak malaikat yang terbang dengan sayapnya yang sedang memainkan harpa. aku tersadar, ku lihat langit telah cerah dan awan hitam digantikan dengan pelangi yang mewarnai langit biru. sepertinya, aku jatuh cinta padanya. aku ingin memeluknya dengan erat.
beberapa detik kemudian ia mengatakan bahwa ia suka padaku. aku gembira dan membalas perkataanya dengan bahasa tubuhku yang malu-malu. setelah beberapa minggu, aku pun menjalin hubungan dengannya. bukan sekedar teman, tapi melebihinya. aku cinta kepadanya. kata-kata itu yang sering ku lontarkan kepadanya begitu juga sebaliknya. aku tak ingin kehilangan dan tak ingin kata-kata itu hanya sebagai formalitas saja seperti kebanyakkan orang.
sayang dan cinta sudah cukup untuk menemani hidupku saat ini.
by: Nicolaus Pramantya :D









