Written on Friday, January 22, 2010 at Friday, January 22, 2010.
Sudah terlalu lama aku membiarkan ia terdiam rapi membisu tanpa katakembali lagi hati dan jari. 'ketak-ketik' jari memijit tombol2 keyboarddiruangan, masih sepi tak terlihat satu pun mahluk dan ditemani cahayayang bikin kepalaku tanpa pusingdiruangan ini sudah hampir 3 bulan aku berdiam dan ngerjain segala tugasanterkadang terdetik dihati, andai saja ini bukan inisemuanya mengejar uang demi kerana uang.Kebebasan hidup juga karena uangsiapa yang lemah maka hati kaku tak terkataaku pernah menjejaki situasi itu suatu ketika dahuludan rasanya itu sama sekali bikin aku ga mau balik lagi ke dunia itu.tapi karena aku masih blm bisa terima ini yang ini.dan jiwa masih bilang itu aku pengen yang itu.
Entah Kenapa
Written on Monday, April 13, 2009 at Monday, April 13, 2009.
Entah kenapa akhir-akhir ini aku kangen ma indo.biar dari makanan, minuman,suasana, udaranya yang penuh dengan polusi,
anak-anak jalanan, pengamen, semuanya.
Dari tadi pas aku masuk ke office jari-jemari ku sering mengetaip
'I-N-D-O-N-E-S-I-A' .
Dan aku ke ruangan membaca tadi, mencari-cari buku 'Lonely Planet- Indonesia'
buat ngubati rasa kangen...
Mungkin aku udah mulai ngerasakan bosan tinggal disini
hakikatnya aku harus tetep disini buat masa beberapa tahun yang mendatang.
Pikiran tambah mau pulang ke indo pas aku baru dimarahin ma si boss
gara-gara key-in nya salah.Bete!
Bukan mao lari dari tanggungjawab soalnya. Pokoknya gw udh bete ah disini!
MAOOOO PULANG!!!!!
Ini, ni buat ngubatin rasa rindu gw ma sang kekasih yang berbtau juahnye!

Transportasi yang aku naiki setiap kali
nyampe di J-Town.

Pertengahan pusat jakarta,yang membuat aku
senang sekali (HI, then)

Kemacetan yang tidak akan tau waktu
buat istirahat

Bapak-bapak dari Irian.

Sering menjadi tempat aku mampir pas pulang
Juffri Supa'at Dan Herry Tjahjono
Written on Thursday, April 9, 2009 at Thursday, April 09, 2009.
Aku terlihat satu buku tulisan dari Juffri Supa'at, mungkin tidak diketahui ramai siapakah orang ini yang sedang aku perbualkan di dalam blogku ini. Seorang penulis yang mendorong dan mengasah 'Anak Muda Julung Berkeris'. Mendorong aku untuk menulis dengan lebih ramai. Aku merasakan seperti aku kembali kealam duniaku yang sudah lama aku tinggalkan suatu ketika. Karena terlalu sibuk dengan kerjaan aku jadi tidak punya waktu untuk ini semua. Buku yang begitu puitis isinya. Biarpun anak-anak julung berkeris membina benteng puitis mereka pada tahun 1998, seperti yang tercatat didalam buku ini. namun aku merasakan ada beberapa hal yang aku merasakan perlu orang ramai ketahui disebalik isi buku ini.
Dan juga aku terbaca di blog dian mengenai seorang penulis, Herry Tjahjono yang berjudul melihat lebih jauh dari koran kompas (14 February 2009).Sepertinya aku merasakan sesuatu yang sama dengan dian. Tulisannya bagus. Cukup mendalam! Mungkin dalam khayalan kita sibuk didunia kita tidak sadar semua ini
Versi lengkap artikel tersebuat ada disini.
http://yalun.wordpress.com/2009/02/14/melihat-lebih-jauh/
Kelahiran mewujudkan kematian
Written on Sunday, February 8, 2009 at Sunday, February 08, 2009.
Aku menatap dia yang terbujur baring dihadapanku dan yang lainwarna-warna yang dipakai oleh tetamu yang mengenali cukup membuatkan aku merasa
keliru dan heran siapakah mereka,tatapanku tak lama pada mereka
yang hadir sang bunda memakai pakaian putih dan dikelilingi manusia-manusia
yang jasad masih diduduki roh mereka, ditepiku terduduk bocah yang
terdiam, tanpa kata
pengertian perpisahan yang terjadi hari ini masih belom mereka kenali
aku hanya mampu membisu,terpaku saat kedengaran dikupingku
alunan ayat-ayat suci.Dihujungku sianak yang meningkat gadis
memegang tisu ditangan, matanya kelihatan lemah sayu dan kehilangan
aku terlalu mengerti apa yang dirasakan untuk sang bunda
bibir hanya mampu mengucapkan kata 'sabar'
sering aku ungkapkan untuk kepada dia, tapi apa yang dirasakan mati di hati
aku mengrti ini semua tiada penganti
kekasihku tiba dimuka pintu istana sederhana ini, aku mendongak dengan senyuman
yang sederhana, isyarat sebagai tanda aku turut berduka dengan perpisahan hari itu
Maka bunda diiringi para muslimah-muslimah yang laen
untuk meletakkan dia dibawah,jantungku makin kencang berdetap
nafasku terasa bagaikan aku berolahraga tanpa henti
minda buntuh, runsing akan kejadian hari itu
lalu ukiran kain berwarna coklat itu dibuka helaian demi helaian
sehingga terlihatkan kain putih itu....
bunda, ternyata itu adalah engkau, kekasihku berdiri diam diantara jendela dan pintu
segala pergerakkan ku semakin lemah, nadiku bagaikan terhenti
buat beberapa detik.Segumpal daging yang berisikan jutaan urat-urat memainkan
lagi segala pertemuan antara aku dan sang bunda,tangisan pertamanya saat aku hadir
pada idul adha bersama keluarga kekasihku cukup membuat aku bahagia
saat detik perkenalan antara aku dan bunda
aku terlalu kagum akan melihat derita sengsara yang bunda hadapi selama ini
bukan jijik atau harus aku singkirkan, tapi bangga dan menjadikan
dia sebagai peran utama dalam hidup agar aku lebih
mengenali hidup dengan lebih memanjang
saat aku masakin yang pedas buat bunda...dia tidak pernah bilang
kalau hasil kerja tanganku itu sama sekali tidak enak
malahan dia menikmati hasil lelahku
kali terkahir pertemuan aku dan bunda....
Dia memeggang tangan anaknya lalu kedengaran
bunyi namaku yang keluar dari salah satu pancaindranya
bertanyakan tentang aku, aku tersenyum campur hiba
dia masih bisa bertanyakan aku biarpun statusnya udah terlalu parah
dan menyakitkan...
kata-kata yang keluar dari salah satu lima pancaindranya
membuatkan aku kurang pasti dengan pertanyaannya
bunda hanya mampu melihat aku dengan melemparkan senyuman tanda semangat
biarpun dengan yang kasar aku melihat bunda terlalu sakit...
Disini, terhadir para ahli keluarga yang mengenali bunda
hadir dipengebumian bunda, aku yakin kekasihku
masih terombang ambing pemikirannya
antara ia atau tidak, tanah-tanah merah dihempapkan
keatas papan yang telah menutupi bunda
laugan soal-soalan yang akan di lemparkan disana pun memecah
kesunyian disana, mataku masih bermain-main melihat
disekelilingku, aku heran melihat itu semua dalam situasi yang keliru
semuanya selesai, kekasihku masih terduduk ditepi, dengan linangan tanpa henti
mungkin baru dia sedar bahawa kekasihnya telah pergi
aku tidak mampu untuk memegangnya, karena aku turut merasa
kehilanggan bagaikan satu anak jarihilang, biarpun peran tidak
seutama peran seluruh tanganku, tapi ia membantu aku disaat sukar
aku terdiri dibelakang kekasihku, terdiam menangis dan ditemani
hangat suria ditanah perkuburan itu
aku jadi ingat akan kejadian kemarin
telfon selku berbunyi tangisan yang kudengar, dia sudah tiada
dia pergi...
aku terlalu kaget, diam lemah tanpa kata
antara percaya atau tidak, sang bunda yang aku baru kenali
menjadi sumber idolaku telah tiada?
apakah itu benar bunda yang masih aku mahu kenali
begitu dalam telah tiada??
Dia terlalu kuat untuk sakitkan, sehinggakan dia rebah
tuhan memberi aku penglihatan untuk aku kenali
kesakitan itu tidak akan pernah bisa dihadapi hanya dengan kelemahan.
Semoga kau disisiNya, diantara para-para Syuhadah dan Rasul-Nya.
Selamat tinggal sang srikandi.
Written on Monday, January 26, 2009 at Monday, January 26, 2009.
Kekasihku matanya besar-besar dan mengucing. Tatapan keduanya berlari nyalang diatas kulit buah dadaku. Pujaanku yang cantik itu lidahnya tersembul sedikit diantara dua potong bibirnya yang merah muda dan empuk. Beberapa kali digelengkannya kepala seperti berusaha menertibkan khayalnya.
"Pegal!" Aku mengeluh.
"Tahan sebentar, sayang."
Suara guratan pensil terdengar cepat, keras, bernafsu. Mata belahan hatiku yang indah berpindah-pindah dari badanku ke kertas di hadapannya. Sesekali senyum mesumnya tersungging. Aku memperhatikan payudara kekasihku. Bentuknya bulat mempesona, naik turun bersama deru nafasnya. Suara bulan dan wangi angin kawin di antara dia dan aku.
Rasa cinta membuatku rela meregangkan kaki selama lebih dari dua puluh menit. Aku tak sabar ingin melihat hasilnya. Bisik-bisik ilalang bilang kalau lukisan kekasihku elok sekali. Kepak sayap nyamuk-nyamuk bernyanyi tentang betapa agung tiap lekuk yang dibikin oleh pujaanku itu. Sesaat ia berhenti. Diambilnya belati dari dalam ransel dan diruncingkannya pensil. Lalu ia mulai lagi. Rahangnya yg menyudut sempurna bergemeletuk ketika kugerakkan sedikit kedua belah pahaku. Lalu semakin ganas ujung pensil menggerayangi permukaan kertas.
Sorak-sorai para katak dan kelap-kelip cahya kunang-kunang melegakan aku. Ah… pasti sudah mau kelar. Si pacar dahinya masih kerut merut tetapi wajahnya berbinar puas. Suara aduan pensil dengan kertas terdengar melembut.
Ia melihat bola mataku sembari mengangguk. Cengirannya lebar. Kekasihku kelihatan seperti anak singa yang berhasil dalam pelajaran berburu pertamanya.
"Sudah?" Tanyaku sungguh amat tak sabar.
"Mau lihat hasilnya atau bercinta dulu?" Jawabnya. Dan kedua pahaku tetap menganga.